PELUANG BISNIS DALAM
BIDANG KOMIK
BAGI MAHASISWA AKTIF
Disusun oleh :
Nama : Zauvik Rizaldi
Ma’ruf
NIM : 16.11.0467
Kelas : TI-08
BAB 1
1.1 Abstrak
Mencari tambahan penghasilan ,erupakan mimpi semua orang. Salah
satunya bagi mahasiswa aktif yang suka bercerita lewat gambar.
Dunia perkomikan di Indonesia adalah
suatu hal yang patut menjadi salah satu bidang yang harus dikembangkan di
lingkup industri kreatif. Banyak negara yang telah sukses dalam bidang komik,
bahkan menjadi salah satu sumber pendapatan visa. Dalam hal tersebut, negara
yang patut menjadi contoh adalah Amerika dan Jepang. Di Jepang dan Amerika,
marketing komik sudah melebar, bukan saran hiburan saja, tapi sudah merambah ke
area periklanan.
1.2 Rumusan
masalah
1.2.1 Bagaiana perkembangan komik di
Indonesia?
1.2.2 Apakah bisnis komik indie adalah
bisnis yang tepat bagi mahasiswa aktif?
1.3 Tujuan
Mengetahui perkembangan perkomikan di Indonesia untuk memetakan
strategi dan memotovasi.
Menghilangkan keraguan mahasiswa yang ingin bergerak di bidang
komik.
BAB
2
ISI
2.1
Kondisi perkembangan komik di Indonesia ditinjau dari aspek sejarah komik di Indonesia
1. Periode 1930an
Pada
awal kelahirannya, komik Indonesia lebih banyak hadir dalam bentuk komik strip
di berbagai surat kabar. Komik-komik karya komikus tanah air ketika itu dapat
juga ditemukan pada surat kabar Belanda seperti De Java Bode dan D’orient,
bersanding bersama komik luar seperti Flippie Flink dan Flash Gordon. Put On
adalah karakter pertama komik Indonesia yang merupakan karya Kho Wan Gie dan
dimuat dalam harian Sin Po. Selain komik Put On, di Solo hadir pula komik
Mentjari Poetri Hidjaoe yang merupakan karya Nasroen A.S. dan diterbitkan oleh
mingguan Ratu Timur.
2. Periode 1940-50an
Pada
akhir 1940an, banyak komik strip Amerika yang dibukukan oleh penerbit lokal.
Komik-komik strip tersebut sebelumnya telah rutin muncul sebagai suplemen mingguan
surat kabar tanah air. Saat komik Amerika membanjir itulah, Siaw Tik Kwei
kemudian hadir dengan komik yang berhasil mengalahkan popularitas Tarzan di
kalangan pembaca lokal. Diadaptasi dari legenda Tiongkok, tokoh utama komik
tersebut adalah Sie Djin Koei.
Kepopuleran
komik Amerika ketika itu kemudian menginspirasi R.A. Kosasih untuk membuat
sendiri karakter superhero ala Indonesia. Lalu lahirlah Sri Asih, karakter
komik yang merupakan adaptasi dari Wonder Woman. R.A. Kosasih kemudian dikenal
sebagai Bapak Komik Indonesia dan karyanya menginspirasi lahirnya karakter
superhero kreasi komikus lokal lainnya, seperti Siti Gahara, Puteri Bintang dan
Garuda Putih/
Selain
karakter superhero, awal tahun 1950-an menandai kelahiran pertama buku komik
Indonesia. Adalah Abdulsalam, salah satu pionir komik tanah air yang membuat
komik strip perjuangan dengan judul Kisah Pendudukan Jogja. Komik strip
Abdulsalam tersebut terbit di harian Kedaulatan Rakyat hingga akhirnya
dibukukan oleh harian Pikiran Rakyat. Komik Kisah Pendudukan Jogja bercerita
tentang agresi militer Belanda ke kota Yogyakarta pada tahun 1948-1949.
3. Periode 1960-70an
Periode
ini diakui banyak orang sebagai era kejayaan komik Indonesia. Banyak komikus
berbakat lahir untuk kemudian menghasilkan karya yang melegenda. Si Buta Dari
Gua Hantu (Ganes TH), serial Mahabharata (R.A. Kosasih), Gundala Putra Petir
(Hasmi), Godam (Wid NS), Panji Tengkorak (Hans Jadalara), Jaka Sembung (Djair),
Rio Purbaya (Jan Mintaraga) adalah sebagian dari karakter komik yang popular
pada masa itu.
Ada
3 tema besar pada periode ini; romance (dimotori Jan Mintaraga), silat (dimotori
Ganesh TH) dan superhero (dimotori Hasmi dan Wid NS). Dalam membuat karakter
superhero, pengaruh komik Amerika dapat terlihat pada tokoh-tokoh komik yang
hadir. Namun gaya Amerika yang dipadu dengan cerita dan nuansa lokal, membuat
komik-komik karya komikus lokal digandrungi masyarakat.
Komik
Si Buta dari Gua Hantu dan Panji Tengkorak yang diangkat ke layar lebar,
berturut-turut pada tahun 1970 dan 1971, semakin mempertegas kejayaan komik
Indonesia ketika itu.
4. Periode 1980an
Pada
tahun 1980an jagad komik Indonesia memasuki masa suram. Serbuan komik Jepang,
Hong Kong dan Eropa (setelah sebelumnya komik Amerika bersaing dengan komik
lokal) serta berkurangnya karya komikus Indonesia yang diterbitkan,
disebut-sebut sebagai beberapa alasan kemunduran yang terjadi. Kalah bersaing
di toko-toko buku, membuat para komikus tanah air ‘bergerilya’ melalui komik
strip dan karikatur di harian nasional. Salah satu komik strip yang cukup
fenomenal masa itu dan masih setia hadir hingga hari ini adalah Panji Koming (Dwi
Koen).
Namun
di tengah kelesuan dan masa suram tersebut, masih ada komikus yang berhasil
menembus pasar komik Indonesia, menjual buku-buku komiknya tidak lewat penerbit
besar atau toko buku tapi lewat pedagang mainan anak-anak keliling. Komikus
tersebut adalah Tatang S. dengan komik-komik punakawan tumaritisnya (Petruk,
Gareng, Bagong) yang dipadu tokoh-tokoh superhero luar negeri, menghasilkan
karakter seperti Megaloman Tumaritis, Batman Tumaritis, Spiderman Tumaritis dan
sejenisnya.
Periode
1990-2000an
Pasca
reformasi, dengan dibukanya keran informasi sebebas-bebasnya, dunia komik
Indonesia kembali menggeliat berusaha bangkit. Penerbit besar seperti Gramedia
(dengan bendera Elex Media Komputindo) pun mulai mencoba menerbitkan karya
komikus lokal, seperti komik Imperium Majapahit karya Jan Mintaraga. Kemudian
Mizan Komik juga menerbitkan Legenda Sawung Kampret karya Dwi Koen. Setelahnya
karya-karya baru komikus lokal kembali bermunculan mencoba merebut pasar komik
Indonesia.
Selain
berjuang lewat penerbitan, para komikus tanah air juga berjuang membangkitkan
kembali komik Indonesia lewat forum-forum dan komunitas-komunitas komik yang
mulai tumbuh menjamur. Forum dan komunitas ini menjadi wadah bagi para komikus
untuk mulai mengaktualisasi diri dan berkarya. Dalam forum dan komunitas inilah
lalu para komikus mulai menjaring pembaca dan peminat komik. Tak jarang juga
mereka menemukan sponsor yang bersedia mendanai penerbitan buku komik mereka.
2000-sekarang
Pada
masa ini, perkembangan perkomikan di Indonesia sangat pesat. Style-style ala
barat dan ala jepang sangat berpengaruh dalam perkembangan perkomikan di
Indonesia saat ini Hal ini patut kita waspadai, karna semakin lama, maka
karaktr komik Indonesia akan hillang. Jika kita dapat mengambil sisi baik dari
hal tersebut, maka komik Indonesia akan lebih berwarna dengan
kehadiran-kehadiran style-style baru. Contoh komik Indonesia yang sukses saat
ini adalah Jingga karya sweta Kartika yang berjudul grey&jingga.
2.2 Menjadi komikus adalah
profesi yang tepat sembari berkuliah
Komikus yang tidak terikat oleh
penerbit adalah profesi yang tepat bagi anda yang sedang sibuk berkuliah dan
minim modal. Hanya dengan modal 20 ribu untuk membeli alat gambar, anda sudah
bisa memulai untuk membuat komik. Bagi pemula, membuat komik dalam bentuk cetak
tidak disarankan, karna memerlukan modal yang lumayan besar. Bagi pemula sangat
disarankan mencoba mengumpulkan minat pembaca dari komik yang di upload di
website-website untuk membaca komik, seperti line webtoon, ciayo comics,
ataupun ngomik.com .
BAB 3
KESIMPULAN
Melihat perkembangan komik yang
begitu pesat, maka mencoba bergelut di bidang perkomikan nasional adalah
keputusan yang baik sembari mengisi waktu luang sehabis kuliah. Selain menjadi
aktualisasi hobi, ngomik dapat menghasilkan uang tambahan jika ditekuni secara
sabar dan telaten.
http://www.alabn.com/sejarah-komik-indonesia-kejayaan-dan-kemundurannya/#

